Sebuah Buku Antropologi Poskolonial “yang terlupakan“
Kamis, 24 Mei 2012
0
komentar
word: Hatib Abdul Kadir
Di pertengahan tahun 1960an, Richard Nixon dengan resmi mengumumkan perang terhadap Vietnam. Ribuan orang bereaksi terhadap ide kontroversial ini. Tak luput pula departemen-departemen antropologi di Amerika Serikat dan Inggris bersikap keras terhadap kebijakan ini. Refleksi ini memunculkan pemikiran kembali terhadap teori dan metode yang dilakukan oleh para antropolog dalam melihat wilayah-wilayah kolonial. Buku Reinventing Anthropology yang diterbitkan oleh para antropolog ”Marxian” di Amerika Serikat mempunyai pasangannya di Inggris, yakni Anthropology and the Colonial Encounter, yang diedit oleh Talal Asad (1973). Buku ini mengusung tidak hanya mengusung pandangan kritik tentang sejarah antropologi pada masa kolonial, namun juga membahas metode antropologi masa depan.
Buku ini hadir sebagai oposisi terhadap pandangan antropologi pada umumnya di waktu itu dan menstimulasi kritik terhadap politik internal dalam antropologi Inggris. Para penulis dalam buku ini berawal dengan menyarakan keprihatinan para antropolog yang terlibat di perang Vietnam, sekaligus memunculkan isu mengenai tradisi Antropologi Inggris, khususnya sepanjang periode tahun 1930-1960, yang telah terpengaruh oleh akomodasinya terhadap konteks penjajahan dan mungkin bahkan para antropolog ikut terlibat di dalamnya. Isu-isu ini memang bukan hal baru, namun secara mendalam isu ini sebenarnya tidak menghasilkan reflektivitas yang mencukupi, dalam beberapa hal tertentu tuduhan dan sindiran-sindirannya cukup menegangkan dan menggelincirkan ke arah diskusi-diskusi serius. Di kata pengantarnya, Talal Asad mengajukan beberapa poin tingkatan pertanyaan sebagai berikut: Pertama, untuk apa antropolog menjadi pelayan administrator kolonial? Apakah ini sebagai cara untuk meningkatkan kekuasaannya, dan mengapa secara aktif antropolog membuat terlibat di dalam pemaksaan sistem kolonial?. Kedua, apakah relasi kekuasaan yang disampaikan antara antropolog sebagai orang Eropa pada satu sisi dan masyarakat kolonial di sisi lain telah mendistorsi praktik studi lapangan para antropolog dan mendistorsi lensa pandangan antropologi? Pada akhirnya, bukankah antropologi setidaknya ikut dalam struktur keterlibatan dalam kolonialisme? Berangkat dari ketidaksejajaran pertemuan antara Barat dan negara dunia ketiga yang memberikan Barat akses informasi kultural dan sejarah mengenai masyarakat-masyarakat yang secara progresif telah didominasi, dan ini tidak hanya menurun pada beberapa pemahaman universal tertentu, namun juga untuk memperkuat ketidaksejajaran dalam kapasitas antara orang Eropa dan dunia yang non Eropa” (Asad 1973: 16).
Menyikapi buku ini, Peter Loizus antropolog Inggris, dalam sebuah seminar di London School of Economics (LSE) mengundang beberapa senior antropolog Inggris terkemuka untuk merespon buku Talal Asad tersebut. Tambiah, antropolog Inggris peneliti Thailand memfasilitasi seminar tersebut. Dalam pertemuan tersebut tidak terjadi sebuah konsensus disiplin baru diantara kolega antropolog Inggris. Poin yang disampaikan Talal Asad dalam buku ini masih meraba-raba sebuah kesalahan yang dilakukan oleh para antropolog dalam sistem kolonial. Namun Asad hanya hendak menyampaikan bahwa Pengetahuan Barat terkonstruksi dengan cara menempatkan para antropolog dalam kekuasaan kolonial global dan tetap menempatkannya berada di tangan dan sistem negara Barat. Membaca buku ini seakan-akan mengesankan bahwa dunia antropologi adalah dunia yang jahat, bahkan Asad dengan sangat keras mengkritik gaya penelitian dan teori Malinowski serta para antropolog di awal tahun 1900 an yang mengeluarkan teori fungsionalisme ataupun struktural fungsionalisme agar tidak terjadi pemerontakan, tetap terciptanya kestabilan dalam lingkungan masyarakat yang dikoloni.
Dengan demikian, ketika membaca permasalahan yang diajukan dalam buku editan Talal Asad ini, pertanyaannya menjadi: apakah benar para antropolog tidak mempunyai rasa kritis terhadap permintaan dalam konteks penjajahan, dan apakah mungkin itu dilakukan? Hal ini tentu saja merupakan tugas yang sangat sukar pelaksanaannya bagi seseorang yang berada dalam sebuah konteks koloni, dan persyaratannya lebih dalam daripada hanya menjaga jarak dari hirarki lokal kolonialisme. Selain dipengaruhi oleh pemikir-pemikir Perancis seperti Michel Foucault, buku ini cukup memberi inspirasi buat seorang intelektual terkemuka non antropolog, Edward Said dalam menulis karyanya ”Orientalism” lima tahun kemudian. Sedangkan buku ini sendiri seakan terlupakan oleh para antropolog dalam mengembangkan kajian poskolonialisme. Karena itu, segera dapatkan buku ini di perpus-perpus terdekat. Pastikan buku ini terletak di rak-rak kumuh, berdebu dan lapuk.
Salam anget poskolonial
Di pertengahan tahun 1960an, Richard Nixon dengan resmi mengumumkan perang terhadap Vietnam. Ribuan orang bereaksi terhadap ide kontroversial ini. Tak luput pula departemen-departemen antropologi di Amerika Serikat dan Inggris bersikap keras terhadap kebijakan ini. Refleksi ini memunculkan pemikiran kembali terhadap teori dan metode yang dilakukan oleh para antropolog dalam melihat wilayah-wilayah kolonial. Buku Reinventing Anthropology yang diterbitkan oleh para antropolog ”Marxian” di Amerika Serikat mempunyai pasangannya di Inggris, yakni Anthropology and the Colonial Encounter, yang diedit oleh Talal Asad (1973). Buku ini mengusung tidak hanya mengusung pandangan kritik tentang sejarah antropologi pada masa kolonial, namun juga membahas metode antropologi masa depan.
Buku ini hadir sebagai oposisi terhadap pandangan antropologi pada umumnya di waktu itu dan menstimulasi kritik terhadap politik internal dalam antropologi Inggris. Para penulis dalam buku ini berawal dengan menyarakan keprihatinan para antropolog yang terlibat di perang Vietnam, sekaligus memunculkan isu mengenai tradisi Antropologi Inggris, khususnya sepanjang periode tahun 1930-1960, yang telah terpengaruh oleh akomodasinya terhadap konteks penjajahan dan mungkin bahkan para antropolog ikut terlibat di dalamnya. Isu-isu ini memang bukan hal baru, namun secara mendalam isu ini sebenarnya tidak menghasilkan reflektivitas yang mencukupi, dalam beberapa hal tertentu tuduhan dan sindiran-sindirannya cukup menegangkan dan menggelincirkan ke arah diskusi-diskusi serius. Di kata pengantarnya, Talal Asad mengajukan beberapa poin tingkatan pertanyaan sebagai berikut: Pertama, untuk apa antropolog menjadi pelayan administrator kolonial? Apakah ini sebagai cara untuk meningkatkan kekuasaannya, dan mengapa secara aktif antropolog membuat terlibat di dalam pemaksaan sistem kolonial?. Kedua, apakah relasi kekuasaan yang disampaikan antara antropolog sebagai orang Eropa pada satu sisi dan masyarakat kolonial di sisi lain telah mendistorsi praktik studi lapangan para antropolog dan mendistorsi lensa pandangan antropologi? Pada akhirnya, bukankah antropologi setidaknya ikut dalam struktur keterlibatan dalam kolonialisme? Berangkat dari ketidaksejajaran pertemuan antara Barat dan negara dunia ketiga yang memberikan Barat akses informasi kultural dan sejarah mengenai masyarakat-masyarakat yang secara progresif telah didominasi, dan ini tidak hanya menurun pada beberapa pemahaman universal tertentu, namun juga untuk memperkuat ketidaksejajaran dalam kapasitas antara orang Eropa dan dunia yang non Eropa” (Asad 1973: 16).
Menyikapi buku ini, Peter Loizus antropolog Inggris, dalam sebuah seminar di London School of Economics (LSE) mengundang beberapa senior antropolog Inggris terkemuka untuk merespon buku Talal Asad tersebut. Tambiah, antropolog Inggris peneliti Thailand memfasilitasi seminar tersebut. Dalam pertemuan tersebut tidak terjadi sebuah konsensus disiplin baru diantara kolega antropolog Inggris. Poin yang disampaikan Talal Asad dalam buku ini masih meraba-raba sebuah kesalahan yang dilakukan oleh para antropolog dalam sistem kolonial. Namun Asad hanya hendak menyampaikan bahwa Pengetahuan Barat terkonstruksi dengan cara menempatkan para antropolog dalam kekuasaan kolonial global dan tetap menempatkannya berada di tangan dan sistem negara Barat. Membaca buku ini seakan-akan mengesankan bahwa dunia antropologi adalah dunia yang jahat, bahkan Asad dengan sangat keras mengkritik gaya penelitian dan teori Malinowski serta para antropolog di awal tahun 1900 an yang mengeluarkan teori fungsionalisme ataupun struktural fungsionalisme agar tidak terjadi pemerontakan, tetap terciptanya kestabilan dalam lingkungan masyarakat yang dikoloni.
Dengan demikian, ketika membaca permasalahan yang diajukan dalam buku editan Talal Asad ini, pertanyaannya menjadi: apakah benar para antropolog tidak mempunyai rasa kritis terhadap permintaan dalam konteks penjajahan, dan apakah mungkin itu dilakukan? Hal ini tentu saja merupakan tugas yang sangat sukar pelaksanaannya bagi seseorang yang berada dalam sebuah konteks koloni, dan persyaratannya lebih dalam daripada hanya menjaga jarak dari hirarki lokal kolonialisme. Selain dipengaruhi oleh pemikir-pemikir Perancis seperti Michel Foucault, buku ini cukup memberi inspirasi buat seorang intelektual terkemuka non antropolog, Edward Said dalam menulis karyanya ”Orientalism” lima tahun kemudian. Sedangkan buku ini sendiri seakan terlupakan oleh para antropolog dalam mengembangkan kajian poskolonialisme. Karena itu, segera dapatkan buku ini di perpus-perpus terdekat. Pastikan buku ini terletak di rak-rak kumuh, berdebu dan lapuk.
Salam anget poskolonial
****
from: http://www.facebook.com/notes/hatib-abdul-kadir/sebuah-buku-antropologi-poskolonial-yang-terlupakan/440103163592
0 komentar:
Posting Komentar