Tampilkan postingan dengan label bajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bajak. Tampilkan semua postingan

bahkan malaikatpun heran

Posted by bilal Sabtu, 09 November 2013 0 komentar
Hancur hati Utuy berkeping-keping saat membaca koran beberapa hari lalu. Didapatinya sebuah kisah seorang TKI yang mati di negeri rantau. Memang tidak jelas awal kematiannya, namun yang pasti banyak keganjalan terjadi. Konon, beberapa organ tubuh dari TKI malang itu, raib entah kemana. Gonjang-ganjing warga condominium Gembel Makmur Group (GMG), beredar kabar bahwa organ itu dicuri dan dijual. Entah berapa berat penderitaan pejuang devisa negara Utuy itu. Yang pasti, Utuy sempat meneteskan air mata, turut merasakan pedih penderitaan saudara-saudara sebangsa dan setanah airnya itu.

”Masya Allah, apa benar begitu ceritanya Blay?” tanya Utuy yang sedang makan gorengan bareng Si Kiblay di kafe ”Starsucks” Babe Sueb.

”Ente kagak tau Tuy? Itu bukan barang baru kali. Sudah banyak orang yang melakukan praktik jual beli organ tubuh. Rata-rata para penjual adalah orang-orang yang tidak mampu, soalnya nilai yang digelontorkan itu bisa sampai ratusan juta sampai miliaran untuk satu organ. Mana ada yang tidak mau dengan uang segitu?”

”Lah, ente sendiri mau Blay?”

”Mau dong…”

”Jual paru-paru mau? Ihh…”

”Ya, nggak gitu juga Tuy. Organ-organ di sini adalah organ yang aman kalau diambil. Artinya tidak akan ada perubahan apa-apa kalau salah satu organ tersebut diambil. Kalau paru-paru yang diambil kan urusannya jadi tambah panjang,”

”Terus apa yang diambil?”

”Biasanya yang paling sering ginjal sama hati”

”Oh, pantes…orang sekarang banyak yang nggak punya hati”

Utuy berkata dalam hati, apakah ini diperbolehkan. Kalau dipikir-pikir, hukum jual beli kan kalau pembeli dan penjual sama-sama ikhlas, berarti boleh-boleh saja. Jadi kalau ada kawan sepergembelan Utuy yang sudah frustasi menghadapi kesulitan hidup, yang sudah bosan hidup miskin sejak lahir, bosan karena bingung dengan pertanyaan besok bisa makan atau nggak, lalu dia menjual salah satu ’barang’ miliknya, selama dia ikhlas, berarti halal dong. Wah, bisa-bisa Si Kiblay, Acuy, Cungkring, Jawir, dan banyak penghuni condominium GMG yang terkenal elit itu, menjadi tambah kaya akibat adanya praktik jual-beli organ tubuh ini.

Atau jangan-jangan juga ada pasar yang menjadi tempat transaksi. Jadi, di suatu pasar, sang penjual berteriak ”Ginjal, hati, jantung, usus, perut, ayoo…ayoo…dijual, dijual, dijual. Harga promo. Diskon 70%. Siapa mau beli, hari ini ada bonus gratis: sepasang bola mata”. Kemudian ada pembeli yang tertarik,”Jantung berapa Bang?” ia bertanya sambil memegang-megang jantung. “Kok lembek bang. Kadaluarsa ya?”. “Wah, nggak bu. Ini baru dari rumah pemotongan. Masih asli bu. Ada juga yang impor. Ibu mau?” sang penjual menyahut. “Yasudah, saya ambil jantung ini aja ya. Jangan lupa dipotong tipis-tipis. Besok saya mau bikin jantung kecap manis”. “Oh, siap bu…tenang saja,”.
Atau suatu ketika, misalnya Utuy memang benar-benar mentok nggak punya uang lagi. Di saat yang sama, ada setan lagi permisi di depan Utuy lalu membisiki Utuy agar menjual saja salah satu “barang” miliknya, maka Utuy tinggal pergi ke pasar dan menemui sang pembeli. Biasanya harga diecer, tergantung belinya partai besar atau cuma sekodi saja.

Utuy pun membayangkan pergi ke pasar tersebut. Ia melihat pasar ramai riuh rendah. Perdagangan berlangsung sangat menguntungkan sepertinya. Buktinya banyak orang yang hadir di sana, baik sebagai penjual, pembeli, maupun preman pasar. Pasar juga modern. Selain ada pasar yang nampak, di internet juga banyak pasar yang tidak nampak. Bahkan di pasar yang nampak ini, semua organ dibungkus rapih dan diberi barcode, mirip seperti di toko-toko swalayan.

Hampir semuanya diberi label yang jelas. Mulai dari asal muasalnya, seperti: ginjalnya dari siapa, rumahnya dimana, bekas orang kaya atau miskin, dulu kerjanya apa, dll. Kemudian spesifikasinya, misalnya bukaan katup ginjal berapa rasionya, hidrolisnya masih tokcer atau nggak, lalu perlengkapan lain seperti pompa, ventilator, kompresornya apakah masih bandel atau nggak. Sampai pada masa kadaluarsanya, dan daya jelajahnya sampai berapa. Wah, pokoknya lengkap deh, kecuali satu hal: nggak ada label MUI-nya.

Setelah sekiranya lengang, Utuy menyapa penjual organ “Bang, ane lagi butuh uang nih. Ane mau jokul salah satu barang ane”. Utuy terlihat grogi. Maklum, ini pertama kalinya ia berkunjung ke pasar ini. “Adek bawa barang apa?” sang penjual bertanya melihat gerak-gerik dan wajah melas Si Utuy. Dengan sedikit kikuk, Utuy pun menunjuk ke organ bagian bawah, dekat resleting. “Oh, kalau itu murah dek. Gak sampek dua juta.” Utuy langsung pingsan.

Setelah itu Utuy kapok berhubungan dengan mereka. Yang bikin Utuy nggak habis pikir, betapa teganya mereka mempermainkan nikmat yang Allah berikan. Padahal organ itu tidak bisa digantikan oleh alat secanggih apapun. Misalnya, ada segelintir peneliti terhebat di dunia yang mencoba membuat alat sekelas ginjal. Memang akhirnya mereka berhasil membuat. Tapi mana mungkin bisa sehebat yang dikaruniai Allah. Bisa jadi, ketika ginjal itu bekerja, tiba-tiba alat itu berbunyi. Eh, ternyata…ginjalnya low battery. Terpaksa sang empunya harus melepas ginjal itu untuk di-charge dulu.

Utuy miris melihat kondisi TKI itu. Kalau tadi Utuy berkisah tentang ginjal yang dimiliki orang hidup, ini lain lagi ceritanya. Orang mati dicuri ginjalnya! Bayangkan!

”Sabar Tuy…sabar,” Kiblay mencoba menenangkan.

”Bagaimana mau sabar. Itu tidak bisa dibiarkan. Sangat tidak berperikemanusiaan. Bahkan hewan pun menghormati kawannya yang mati. Jelas, tindakan pencurian itu juga tidak berperikehewanan.” sela Utuy sambil membanting-bantingkan tangan di atas meja. Kopi yang ada di gelas sampai mencelat.
Utuy jadi teringat kisah Hamzah bin Abdul Mutalib. Pahlawan yang dielu-elukan sebagai Singa Allah itu gugur dalam pertempuran Uhud. Beliau berperang dengan penuh keikhlasan dan penuh pengharapan agar dipertemukan dengan kesyahidannya. Memang hal itu kesampaian. Namun ada kejadian yang mirip-mirip kisah di atas.

Ketika Hamzah syahid akibat lemparan Wahsyi, seorang pembunuh yang memang disewa oleh pembesar Quraisy untuk membalaskan dendam keluarga Hindun bin Utbah. Setelah Hamzah syahid, maka Hindun mendekati jasadnya. Seperti yang sudah diikrarkan Hindun, demi membalas kematian sanak keluarganya, ia mengoyak dada hamzah serta mencabut jantungnya dari dadanya itu. Hindun kemudian memakan jantung itu dengan terlihat sangat puas sebab dendamnya terbalaskan.

”Jadi, orang yang mengambil ginjal TKI itu sama seperti Hindun?” sahut salah seorang pelanggan kafe ”starsucks” babe sueb.

”Iya. Bahkan bisa jadi lebih parah dari Hindun!’” jawab Utuy sedikit sewot
”Kok bisa?”

 ”Hindun kan buat konsumsi sendiri. Nah, kalau para pencuri itu malah memperjual belikan,”
Kiblay menyahut,”Berarti kalau kita punya Narkoba terus dikonsumsi sendiri itu nggak papa ya…Kan kita nggak menjual?”

Utuy enteng menjawab,”Gundulmu…”

”Ini bukan perkara menjual atau dijual, mengonsumsi atau tidak. Tapi lebih pada masalah, apakah orang mati itu tidak punya hak untuk dihormati. Islam itu mengajarkan hal yang baik. Bahkan ketika ada orang mati, orang yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk menghormati mereka. Misalnya orang mati wajib menyolati, mengafani dan mengantarkannya sampai kubur.”

”Udah, gitu doang Tuy?”

”Emangnya ente mau masuk juga ke dalam kuburnya?”

”Hehehe…” pengunjung kafe mendadak tertawa lepas. Bahkan babe sueb yang dari tadi memperhatikan celotehan Utuy, juga tertawa sampai ia lupa kalau ia memasukkan garam ke dalam kopi Utuy yang tadi minta ditambah segelas lagi.

Ketika Babe Sueb memberikan kopi ke Utuy, ia berpikir dalam. Mayat TKI yang tadi pagi dibongkar lagi kuburannya itu hendak mengadu pada Utuy. Bagaimana bisa, persidangan bersama Munkar Nakir ditunda gara-gara ada agenda otopsi. Ketika menunggu hasil otopsi, Munkar dan Nakir pun saling bersenda gurau.

”Kar, tadi pertanyaan kita sampai mana?”

”Man robbuka…”

”Oh, sudah itu. Dia bisa jawab, walaupun terbata-bata”

”Berarti pertanyaan pokok sudah semua ya Kir?”

”Iya sepertinya”

”Sebentar, sebentar. Aku ingat, kalau tidak salah pertanyaannya kita berhenti di pertanyaan dipergunakan untuk apa saja organ tubuh dia selama hidup”

”Kaki sudah. Tangan sudah. Telinga sudah. Mata sudah. Mulut sudah. Terus pas tadi masuk ke pertanyaan organ dalam, dia kelihatan kebingungan gitu.” ujar Munkar sambil mencoba mengingat-ingat sekaligus memeriksa checklist daftar pertanyaan yang panjang kertasnya saja melebihi perjalanan Jakarta-Surabaya itu.

Munkar-Nakir ‘cekikikan’ saja sambil menunggui ruang persidangan yang kosong akibat ditinggal si terdakwa. Bisa jadi mereka heran, demi lolos pertanyaan ”dipakai apa saja organ yang dianugerahkan Allah itu”, mereka justru berusaha menghilangkan barang bukti. Ada-ada saja manusia itu.
Lamunan Utuy buyar. Mulutnya menyembur.  

”Masya Allah, kopi apaan nih???”

Babe Sueb ketawa ngakak. [ ]

***
bajak dari: undergroundtauhid.com
@pembajak: bilal revolusi

Menelisik cerita porno di dunia maya

Posted by bilal Jumat, 05 Juli 2013 0 komentar
“Menelisik cerita porno di dunia maya” 

Read: Muhammad ali
[catatan seorang blogger kurang ajar]

Ambon, 30 April 2013.

 Arus informasi dalam dunia maya boleh dikatakan sangat cepat. Dalam hitungan persekian detik para pemberita akan menulis banyak hal di blog mereka atau web mereka. Inilah mengapa dunia maya dengan segala pernak-pernik informasi yang ditawarkan boleh diibaratkan memiliki sisi yang suram juga, selain sisi positifnya. Hal yang paling surum dalam dunia maya adalah antusias para blogger yang suka posting cerita-cerita berbau porno di blog mereka.

 Seolah kehilangan akal sehat bermunculan para blogger yang hanya mementingkan jasa advertising pada blognya. Tentu duit menjadi incaran yang tak bisa disangkal oleh para blogger perusak moral agama dan bangsa. dengan cara-cara picik mereka memberikan informasi yang sangat negative untuk para khalayak. Saya melihat tindakan mereka nggak lebih dari para tukang ngemis yang meraup keuntungan di dunia maya, lewat jasa iklan obat kuat, pembesar anu dan pelangsing.


Berselimutkan kebohongan.
Dari waktu ke-waktu saat saya melakukan penyelidikan akan kasus blog porno ini, saya menemukan keganjalan pada blogger perusak moral agama dan bangsa. Ini nggak lain tentang isi dari blog yang digunakan untuk meraup keuntungan ratusan ribu rupiah/iklan [minimal, tergantung seberapa tenar blog yang dikunjungi]. Kebanyakan isi dari para blogger ini acapkali melakukan penulisan cerita-cerita negative yang tergolong fiktif belaka. Cerita yang ditulis tak lebih dari penulisan dari pemikiran liar yang melintas sekejap dibenak penulisnya. Ini bisa kita temukan saat tulisan mereka sering menghayalkan bermain cinta dengan background yang sangat berani, misalnya, bermain cinta didepan anak sendiri, bermain cinta dengan anak kandung, dengan suami orang, dengan bos, dengan janda, dengan wanita setengah baya, dengan tiga pria, dan dengan… dengan… dengan yang lain.

 Kalau bermain yah sudah bisa ditebak; biasanya di hotel, dirumah orang, dikost kekasih, dan ditempat-tempat tersembunyi yang orang rumah sedang keluar. Saya pikir para pembaca tulisan yang berbau negative pun bisa sadar bahwa cerita yang ditulis nggak lebih dari sebuah cerita fiktif belaka, meski seringkali prolog dari tulisan sampah tersebut dimulai dengan kata-kata: ini cerita yang saya alami. Namun pada fakta penulisannya, nggak lebih dari kejadian fiktif yang seolah benar terjadi. 

Dan seperti kebanyakan penikmat blog yang berbau-bau negative nyatanya para pembaca pun mulai tahu bahwa apa yang selama ini dibaca oleh mereka lambat laun tercium aroma kebohongan. Maka nggak salah kalau seandainya, bereberapa komentator sering kali memaki blogger yang hanya memosting tulisan yang fiktif belaka. 

Setidaknya, para pembaca sudah sadar atau setidaknya selektif membaca tulisan yang nggak bermutu itu. kecerdasan inilah yang seharusnya di pertahankan oleh manusia yang memiliki akal. bukan seperti binatang yang hanya makan tanpa berpikir akan kehidupan yang dijalaninya.[] Read: Muhammad ali I menelisik cerita I bilalrevolusi.blogspot.com I Ambon I 30 April 2013.

Di garis depan

Posted by bilal 0 komentar
"Di garis depan" 

Read: Muhammad Ali
 [catatan seorang blogger kurang ajar]

 Deru debu jalanan 
kerulangkah keterbatasan 
parau nafas perjalanan 
untukmu yang masih bertahan di garis depan

 - dalam lagu; Punk muslim: Sajak untuk kita. 

Ambon, 26 juni 2013.

saya mesti kagum dengan mereka-mereka yang masih berada di garis depan untuk menyiarkan islam di seantero perjuru dunia. melanjutkan tradisi islam yang sudah menjadi dasar bahwa islam perlu disampaikan untuk dikenal dan mengantarkan manusia pada level hidup yang semestinya.


dan bila kita menengok sejarah maka kita pun mengetahui bahwa seruan islam sudah melekat pada para ambia terdahulu yang menyerukan kebaikan dan mentauhidkan ke-Esa-an Allah. dari Nabi Adam hingga penutup para ambia yakni Nabi Muhammad pun menyerukan seruan satu tuhan yakni Allah, semata. dalam ilmu sosiologi, penyeruan akan tuhan yang satu disebut monoteisme. penyeruan moneteisme dalam mengantarkan islam bukan banyak agama kebanyakan yang tanpa konsep ideologi yang fundamental. islam bahkan memandang seruan  di garis depan adalah keniscayaan. sepenggal ayat sering dikutip adalah sampaikanlah walau satu ayat. artinya apa? islam sudah mendapatkan legitimasi untuk melakukan seruan pada sekalian alam agar mengetahui nilai-nilai keislaman, dan setelah mereka mengetahui hal itu. diharapkan untuk mereka mampu membenturkan pendapatnya terdahulu dengan nilai islam, mana yang baik untuk di gunakan dan mana yang harus di campakan!. 

dan mereka yang selalu bergerak untuk mengemban amanah ini sepentasnya mendapat apresiasi untuk dakwanya yang sangat dasyat. bahkan masuk pada belantara pedalaman papua, kalimantan dan juga menembus perkotaan-perkotaan dan negara. dengan berbekal ilmu yang dimiliki dan motivasi perubahan "sampaikanlah walau satu ayat". maka prolog dari Punk muslim untuk membuka tulisan ini di atas sudah menunjukkan gamabran kegigihan mereka. [] Read: Muhammad Ali I Di garis depan I bilalrevolusi.blogspot.com I Ambon, 26 juni 2013.


iwan kadir dan twet-nya

Posted by bilal Selasa, 16 April 2013 0 komentar
iwan kadir dan twet-nya
read: iwan kadir
posting: bilalrevolusi

ternyata ada yang jago nulis nih?... dari tutur katanya lewat twet-twetannya membuat saya mau mempublikasi tulisanya ini. semoga makin gila dalam menulis bang iwan kadir:

"hidup penuh pilihan , apa yg kamu pilih hari ini akan menentukan masa depanmu . Jadi pilihlah yg membuatmu menjadi pribadi yg lebih baik :);)"

"Semakin lama kejujuran total tertunda , semakin banyak juga tumpukan beban pikiran , rasa bersalah , serta ketakutan yg menghalangi kita :)"

"Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara , bisa semenit atau setahun . Namun jika menyerah rasa sakit itu akan terasa selamanya ;)"

"hal pertama yg perlu kau lakukan tuk menikmati hidup adalah berhenti mengeluh dan mulai menerimanya .."

"Sesungguhnya Allah menurunkan kekayaan , kekuasaan dan bencana sebagai ujian bagi orang2 yang mau berpikir . Namun kekayaan , kekuasaan dan bencana akan menjadi musibah bagi orang2 bodoh dan keras hati .."

"tawa perempuan lebih ikhlas dari tawa lakilaki , namun air mata lakilaki lebih jujur drpda air mata perempuan !"
  

"jangan sesali apapun kesalahan yg sudah terjadi sekarang ataupun hari2 kemarin , smua itu telah berlalu . Ambil hikmanya dan jangan pernah lagi mengulang kesalahan yg sama sprti itu .."

"Ketika dia yang kamu cinta mengatakan kamu tak cukup baik baginya , kamu harus menyadari bahwa hidupmu jauh lebih baik jika tanpanya .."

"hidup memerlukan pengorbanan , pengorbanan memerlukan perjuangan , perjuangan memerlukan ketabahan , ketabahan memerlukan keyakinan , keyakinan menentukan kejayaan dan kejayaan itulah yg menentukan kebahagiaan hidupmu .."

"Trima kasih ya Allah atas setiap hembusan nafas yg engkau beri sampai saat ini dan umur yg bertambah O:) trima kasih kedua orangtua atas kasih sayang dan prjuangan yg telah menghidupi saya sampai saat ini :* trima kasih sahabat dan teman2 atas ucapan dan semangat yg kalian beri ({}) insya Allah di umur yg bertambah ini bisa menjadi org yg lebih baik dari sebelumnya , amin ya Allah O:) "


"sorry sob ! saya tak seperti dulu lagii , saya skrg lebih senang istrht di rumah drpd harus berfoya* yg tak berguna .."

 [13 april 2013 S/D 7 juli 2012]

Filsafat Ilmu Islami : Manusia Bisa Tahu Yang Benar

Posted by bilal Senin, 11 Maret 2013 0 komentar
Filsafat Ilmu Islami : Manusia Bisa Tahu Yang Benar Manusia normal pada hakikatnya dapat mengetahui kebenaran dengan segala kemampuan dan keterba-tasannya. Ia juga bisa memilih (ikhtiyar) dan memilah (tafriq), membedakan (tamyiz), menilai dan menentukan (tahkim) mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berguna dan mana yang berbahaya, dan seterusnya. ‘Kemampuan’ yang dimaksud adalah kapasitas manusia lahir dan batin, mental dan spiritual, dengan segala bentuk dan rupanya. Ada pun ‘keterbatasan’ merujuk pada keterbatasan intrinsik manusiawi maupun ekstrinsik non-manusiawi, Keterbatasan yang dimiliki manusia meskipun ada, tidak sampai berakibat gugurnya nilai kebenaran maupun keabsahan atau validitas dari ilmu itu sendiri. Sedangkan kondisi ‘normal’ yakni keadaan seorang yang sempurna (tidak cacat) dan sehat (tidak sakit atau terganggu), baik fisik maupun mentalnya, jasad dan ruhnya, terutama sekali akal dan hati (qalb)-nya. Maka dalam diskursus Filsafat Ilmu yang Islami, mengetahui (‘ilm) dan mengenal (ma‘rifah) bukan sesuatu yang mustahil. Pendirian kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal-Jama’ah dalam soal ini disimpulkan oleh Abu Hafs Najmuddin ‘Umar ibn Muhammad an-Nasafi secara ringkas: haqa’iqul asyya’ tsabitah, wal-ilmu biha mutahaqqiqun, khilafan lis-sufistha’iyyah (Lihat: Matan al-‘Aqa‘id dalam Majmu‘ Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba ‘ah al-Khayriyyah, 1306 H). Ditegaskan bahwasanya hakikat, kuiditas atau esensi dari segala sesuatu itu tetap sehingga bisa ditangkap oleh akal minda kita. Hakikat segala sesuatu dikatakan tidak berubah karena yang berubah-ubah itu hanya sifat-sifatnya, a’rad, lawahiq atau lawazim-nya saja, sehingga ia bisa diketahui dengan jelas. Sebagai contoh, manusia bisa dibedakan dari monyet, ayam tidak kita samakan dengan burung, atau roti dengan batu. Maka ilmu tentang kebenaran tidak mustahil untuk diketahui oleh manusia sebagaimana ditegaskan dalam kitab suci al-Qur’an surah az-Zumar (39:9): “…. katakanlah: Apakah sama, orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui?” Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Bagaimana cara, dengan apa atau dari ilmu apa dapat diketahui dan dipastikan? Meminjam formulasi wacana filsafat modern: How is knowledge possible? Jawaban pertanyaan ini adalah ilmu diperoleh melalui tiga sumber, yaitu persepsi indera (idrak al-hawass), proses kognitif akal yang sehat (ta‘aqqul) termasuk intuisi (hads), dan melalui informasi yang benar (khabar shadiq). Demikian ditegaskan oleh Sa‘duddin at-Taftazani, Syarh al-‘Aqa‘id an-Nasafiyyah, cetakan Istanbul: al-Matba’ah al- ‘Uthmaniyyah, 1308 H. Permasalahan tersebut juga disinyalir dalam al-Qur’an surat an-Nahl (16):78, Qaf (50):37, al-A’raf (7): 179, Ali ‘Imran (3):138, dan masih banyak lagi. Persepsi inderawi yang digunakan manusia untuk memperoleh ilmu meliputi kelima indera (pendengar, pelihat, perasa, penyium, penyentuh), di samping indera keenam yang disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis, yang menyertakan daya ingat atau memori (dzakirah), daya penggambaran (khayal) atau imajinasi, dan daya perkiraan atau estimasi (wahm) (Silakan lihat: Imam al-Ghazali, Ma‘arij al-Quds ila Madarij Ma‘rifat an-Nafs, Beirut, 1978). Sedangkan proses akal mencakup nalar (nazar) dan alur pikir (fikr), seperti dinyatakan oleh Imam ar-Razi dalam kitab Muhassal Afkar al-Mutaqaddimi wa 1-Muta’akhkhirin, cetakan Kairo: al-Matba’ah al-Husayniyyah, 1969. Dengan nalar dan pikir ini manusia bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat putusan dan menarik kesimpulan. Selanjutnya, dengan intuisi ruhani seseorang dapat menangkap pesan-pesan ghaib, isyarat-isyarat ilahi, menerima ilham, fath, kasyf, dan sebagainya. Selain persepsi indera dan proses akal sehat, sumber ilmu manusia yang tak kalah pentingnya adalah khabar sadiq, yakni informasi yang berasal dari atau disandarkan pada otoritas. Sumber khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya) yang diterima dan ditransmisikan (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai ke akhir zaman. Mengapa hanya khabar sadiq yang diakui sebagai sumber ilmu? Mengapa tidak semua informasi bisa dan atau harus diterima? Lantas kapan suatu proposisi, informasi, pernyataan, ucapan, pengakuan, kesaksian, kabar mesti ditolak? Apa patokan dan ukurannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini pun telah dirumuskan oleh para ulama ahli hadis dan usul fiqh. Secara umum, khabar atau kabar dalam arti berita, informasi, cerita, riwayat, pernyataan, atau ucapan, berdasarkan nilai kebenarannya dapat diklasifikasikan menjadi kabar benar (shadiq) dan kabar palsu (kadzib). Sebagian ulama bahkan berpendapat pemilihan ini perlu diperjelas lagi dengan kriteria ‘dengan sendirinya’ (bi-nafsihi atau lidzatihi) yakni tanpa diperkuat oleh sumber lainnya, dan ‘dengan yang lain’ (bi-ghayrihi) yakni karena didukung dan diperkuat oleh sumber lain. Khabar shadiq menurut Imam an-Nasafi, al‘Aqa’id dibedakan menjadi dua macam. Pertama, khabar mutawatir, yaitu informasi yang tidak diragukan lagi karena berasal dan banyak sumber yang tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta. Maka kabar jenis ini merupakan sumber ilmu yang pasti kebenarannya (mujib li l-’ilmi d-dharuri). Kedua, informasi yang dibawa dan disampaikan oleh para Rasul yang diperkuat dengan mukjizat. Informasi melalui jalur ini bersifat istidlali dalam arti baru bisa diterima dan diyakini kebenarannya (yakni menjadi ilmu dharuri alias necessary knowledge) apabila telah diteliti dan dibuktikan terlebih dulu statusnya. Keterangan Imam an-Nasafi ini menggabungkan aspek kualitas dan kuantitas narasumber. Penting sekali diketahui bahwa tidak semua informasi atau pernyataan yang berasal dari orang banyak bisa serta-merta dianggap mutawatir. Mengingat implikasi epistemologisnya yang sangat besar, para ulama telah menetapkan sejumlah syarat sebagai patokan untuk menentukan apakah sebuah kabar layak disebut mutawatir atau tidak. Berkenaan dengan khabar al-wahid atau khabar al-ahad, para ulama juga telah menetapkan persyaratan yang cukup ketat, tidak hanya untuk nara sumbernya, tapi mencakup isi pesan yang disampaikannya, serta cara penyampaiannya. Maka sebuah kabar yang membawa ilmu mesti diklasifikasi juga berdasarkan kualitas sumber-sumbernya, siapa pembawa atau penyebarnya atau orang yang mengatakannya, lalu bagaimana kualifikasi serta otoritasnya (sanad atau isnadnya). Sikap kritis terhadap sumber dan isi ilmu dalam juga perlu dilakukan terhadap sumber intern masyarakat Islam sendiri. Hal ini dapat dilacak dan sejarah keilmuan Islam sejak kurun pertama Hijriyah. Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, ‘Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib terkenal sangat berhati-hati dalam menerima suatu laporan atau khabar dari para Sahabat mengenai ucapan, perbuatan ataupun keputusan yang ditetapkan Rasulullah SAW. Untuk menepis kemungkinan terjadinya tindakan pemalsuan dan dusta atas nama Rasulullah SAW, para khalifah bukan hanya melakukan pemeriksaan seksama (tatsabbut) dengan cara meminta minimal dua orang saksi (istisyhad) dan menuntut sumpah (istihlaf, bahkan juga mengimbau agar orang tidak gampangan mengeluarkan hadith (iqlal fi r-riwayah). Untuk ini kita bisa merujuk kitab Hujjiyyat as-Sunah karya ‘Abd al-Ghani ‘Abd al-Khaliq, Washington: International Institute of Islamic Thought, 1986. Sikap selektif terhadap sumber ilmu yang dikembangkan menjadi metode isnad ternyata masih sangat relevan dalam tradisi intelektual di jaman modern ini. Pentingnya metode ini dapat dirujuk kepada pernyataan ulama salaf ‘Abdullah ibn al-Mubarak (w. 181 H 797 M): “Tanpa sandaran otoritas, niscaya setiap orang akan berbicara tentang apa saja sesuka-hatinya (lawla l-isnad, laqala man sya’a ma sya’a).” Sedangkan Abu Hurayrah r.a., Ibn ‘Abbas r.a., Zayd ibn Aslam, Ibn Sirin, al-Hasan al-Basri, ad-Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i pun telah berpesan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dengan siapa kalian berguru dalam soal agama (inna hadza-l-’ilma dinun, fa unzhuru ‘amman ta’khudhuna dinakum). (Imam Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kitab al-Majruhin min al-Muhaddithin wa d-Dhu‘afa’ wa l-Matrukin, cetakan Aleppo: Dar al-Wa’y, 1396 H. Apabila diekspresikan dalam bahasa epistemologi kontemporer, pesan ini berarti bahwa ilmu haruslah dicari dari sumber-sumber yang otoritatif yaitu mereka yang memiliki pandangan hidup Islam dan terpancarkan dari prinsip-prinsip ajaran agama Islam itu sendiri. Maka dapat kita simpulkan bahwa filsafat ilmu itu mencakup arti mengetahui, obyek pengetahuan, sumber ilmu pengetahuan, dan proses mengetahui yang dalam Islam memiliki ciri khas tersendiri dan karenanya secara substantif sangat berbeda dengan filsafat ilmu dalam peradaban-peradaban lain. Prinsip-prinsip (usul) dan dasar-dasar (mabadi’) filsafat Ilmu dalam Islam telah dirumuskan oleh para ulama Islam terdahulu (salaf) dan golongan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berasaskan kitab suci al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW sehingga tidak empirisistik hanya mengandalkan persepsi inderawi dan bukan pula rasionalistik mendewakan kemampuan akal belaka, akan tetapi dikuatkan oleh wahyu otentik yang berasal dari Allah swt, Sang Pemilik ilmu. [] from:insistnet

Di Balik Politik Kesetaraan?

Posted by bilal 0 komentar

Di Balik Politik Kesetaraan? 

read: Bang Henry

Sejak perempuan melakukan tugas naturalnya yang harus hamil, melahirkan dan menyusui, pola hidup mengembara akhirnya harus terhenti. Lalu memaksa manusia belajar menetap dan “menguasai” alam sebagai tempat tinggalnya. Peradaban atau hadharah berakar kata dari hadhara yang berarti hadir, tidak ghaib, menetap, eksis dan tidak menghilang.

Islam datang untuk membebaskan perempuan dari belenggu ketidakadilan, eksploitasi, marjinalisasi dan diskriminasi.”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun” (QS. 4:124). Maka tingkat keberimanan seorang hamba tidak diukur dari kelelakiannya maupun kewanitaannya. Sebaliknya, mereka harus akur dan saling tolong menolong menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan ilmu dan adab, serta segala bentuk kemungkaran sosial lainnya menjadi tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan. Kewajiban memerangi ketimpangan sosial dan meningkatkan SDM dalam Islam tidak difokuskan pada jenis kelamin tertentu. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya” (QS. 9:71)

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan merupakan dasar ajaran Islam. Sebab pada prinsipnya, segala perintah dan larangan Allah (taklif) ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Taklif ini bersifat umum dan mutlak, sampai adanash khusus lainnya yang mengecualikannya secara jelas. Imam Ibn Rusyd yang hidup di Cordova (595H/1198M) pun dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menjelaskan: “Laki-laki dan perempuan itu setara, karena pada awalnya hukum keduanya adalah satu, sampai ditetapkannya pengecualian syar’i yang menjelaskan hal itu”. Ibn Hajr al-’Asqalani (852H) juga menjelaskan dalam kitab Fathul Bari bahwa wanita itu adalah saudara kandung (setara) laki-laki dalam hukum, kecuali jika ada pengkhususan.

Maka tidak ada satu pun ulama di sepanjang zaman yang mengatakan bahwa perintah melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, menuntut ilmu dan mencegah kemungkaran hanya ditujukan untuk laki-laki. Namun, hal ini tidak berarti bahwa dalam Islam itu tidak ada perintah, larangan, hak dan kewajiban yang dikhususkan bagi laki-laki atau perempuan saja. Sebab, seperti yang sudah jamak diketahui bahwa dalam syariah terdapat beberapa pengecualian, misalnya dalam masalah persaksian (syahadah), batasan aurat, bagian waris, dst. Adanya pengecualian tersebut tidak berarti Islam merendahkan martabat perempuan atau memarjinalkannya. Sebab kedudukan jenis kelamin (karakter biologis) dan gender (sifat, peran, posisi dan tanggung jawab) antara laki-laki dan perempuan tidak dipandang secara dikhotomis (terpisah dan dipertentangkan antara satu dan lainnya). Sebaliknya, Islam memandangnya secara integral dan komprehensif. Hal ini dibuktikan dengan adanya konsep keluarga, takaful(saling menopang) dan ta’awun (cooperation). Konsep-konsep dalam Islam ini berbeda dari cara pandang individualistik-emosional yang menuntut kesetaraan secara empirik dan kwantitatif.

Maka terkait dengan masalah pengecualian hukum, hak dan kewajiban, seorang Muslim tidak diperkenankan “berijtihad” untuk merombaknya dengan dalih doktrin feminisme maupun kesetaraan gender. Atau mengakali hukum Tuhan melalui metode kritik sejarah, manhaj tadriji (metode tahapan), teori al-maskut ‘anhu (yang tak terkatakan), dst. Metode-metode tersebut mengandaikan bahwa adanya pengecualian hukum, hak dan kewajiban dalam Islam (seperti masalah persaksian, waris, batasan aurat, dst), lebih disebabkan faktor sejarah dan kondisi sosial masyarakat Arab yang patriarkal saat turunnya wahyu. Sehingga –dalam dugaannya-, turunnya QS. 4:11 yang mengesankan adanya perbedaan waris, lebih disebabkan ketidaksiapan masyarakat Arab yang patriarkal kala itu untuk menerima “kesetaraan gender”. Maka di kalangan feminis, QS. 4:11 ditafsirkan sebagai tahapan awal untuk menuju kesetaraan mutlak, dimana bagian waris laki-laki dibatasi dan perempuan mendapatkan hak warisnya. Karena tidak ada lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan kesamaan kwantitas hak waris ini, maka dimunculkanlah teori al-maskut ‘anhu. Dengan teori ini, mereka menduga bahwa nantinya, Tuhan sebenarnya ingin menyamakan bagian waris. Namun karena kondisi sosial masyakat Arab saat itu yang didominasi laki-laki, maka “ayat” waris berbasis gender, akhirnya belum terwahyukan hingga Nabi Muhammad wafat.

Trik mengakali ayat-ayat al-Qur’an yang qath’i (final) dan sharih (explicit) seperti ini hanya dikembangkan oleh mereka yang terpengaruh akal-akal ateistik Posmodernis Barat dan berdampak serius terhadap konsep wahyu dalam Islam.Pertama, Kehendak Tuhan ditundukkan pada realitas sejarah dan konsensus publik. Dimana Tuhan seolah-olah dianggap “tidak sempat” memfirmankan keinginan-Nya untuk menyamakan bagian waris anak laki-laki dan perempuan, karena realitas sosial yang patriarkal saat itu belum mengizinkan turunnya wahyu berbasis gender.Kedua, memisahkan wahyu dari asal-usul ketuhanan. Sehingga al-Qur’an dipandang sebatas pengalaman lokal dan temporal yang dihasilkan Nabi beserta sahabatnya dalam merespon problem bangsa Arab kala itu. Maka metode memahami al-Qur’an pun harus mengikut realitas sosial yang berkembang. Ketiga, kontekstualisasi ayat-ayat qath’iyang bersandar pada sejarah akan berdampak hilangnya sisi mu’jizat kebahasaan (i’jaz lughawi) al-Qur’an. Akhirnya, setiap pemaknaan terhadap lafaz al-Qur’an dijauhkan dari makna kebahasaannya, bahkan selalu permisif untuk disusupi berbagai makna praduga dan aneka purba sangka.

Di beberapa perguruan tinggi Islam, ternyata tafsir feminis dan pendekatan kritik sejarah seperti ini sudah di-nash-kan dalam kurikulum untuk memahami al-Qur’an. Tujuannya untuk memastikan adanya evolusi syariah melalui metode-metode di atas. Sebenarnya kebijakan seperti ini merupakan aplikasi kejahilan dalam memandang kultur Barat dan Islam. Seolah-olah umat Islam memiliki problem yang sama dengan apa yang dialami Barat, sehingga solusinya pun harus mengadopsi dari pengalaman Barat.

Dalam skala nasional, konsep kesetaraan gender secara empirik-kwantitatif dijadikan sebagai indikator pembangunan manusia (Human Development Index, HDI). Perkembangan selanjutnya, konsep kesetaraan gender harus diikutsertakan dalam mengevaluasi keberhasilan pembangunan nasional. Sejurus kemudian bermunculan berbagai tuntutan porsi perempuan di bidang politik, ekonomi, tenaga kerja, struktur pemerintahan, dsb. Pola pikir feminis seringkali hanya mempertimbangkan kepentingan kalangan elitis perempuan. Kerja mereka Cuma mengompori kaum wanita untuk dijadikan batu pijakan dalam memenuhi ambisinya. Dalam mengevaluasi keberhasilan dunia politik misalnya, akal feminis biasanya akan memfokuskan kwantitas keterwakilan perempuan di kursi DPR minimal 30%. Lagi-lagi jenis kelamin dulu yang dilihat, bukan kapasitas dan kapabilitasnya.

Ketika menyikapi carut marutnya penanganan bencana alam, seperti kurang sigapnya pemenuhan kebutuhan anak dan perempuan, lagi-lagi akal feminis akan menuduh bahwa ini semua gara-gara pemerintah tidak mengakui perempuan sebagai kepala rumah tangga. Demikian halnya saat menyikapi tingginya angka kemiskinan dan buta huruf, akal feminis pun hanya melongok prosentase perempuan yang miskin buta huruf. Bangsa ini lalu diprovokasi seolah-olah telah terjadi pemiskinan dan pembodohan terhadap kaum perempuan. Seperti sebuah slogan yang diusung dalam sebuah acara perkumpulan perempuan pada 14-18 Desember 2009 lalu, “Perempuan Indonesia: Menghapus Pemiskinan dan Kekerasan”.

Selanjutnya, giliran agama dan “fundamentalisme” yang dituding sebagai biang diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap wanita. Bahkan dalam rangka memperjuangkan HAM kaum waria dan lesbian, mereka tidak segan-segan menuding siapa saja yang tidak setuju dengan perilaku homoseksual dikategorikan sebagai kelompokfundamentalis yang homophobia. Pemerintah juga dinilai tidak bijak, bahkan sangat diskriminatif, karena tidak menjamin keamanan, kesehatan dan peningkatan SDM para pelaku homoseksual.

Fenomena kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan diakui memang terjadi di sebagian oknum umat beragama. Tentunya, ini lebih dipicu oleh rendahnya taraf kesejahteraan hidup dan pendidikan dan berdampak luas ke semua sektor kehidupan. Pelaku ketidakadilan tidak saja laki-laki, tapi juga perempuan. Anehnya, feminisme hanya memerangi ketidakadilan yang dialami perempuan, tapi mengabaikannya jika korbannya adalah laki-laki. Sebab pada dasarnya, feminisme bukanlah ideologi yang memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Karena di era masyarakat yang modern ini, laki-laki dan perempuan sudah mendapatkan hak dan peluang yang setara. Maka perjuangan wanita untuk berkarier misalnya, hendaknya tidak terkesan jahil aplikatif yang terfokus pada tuntutan porsi kwantitas. Tapi harus mengarah pada hal-hal yang lebih substantif, seperti jaminan keselamatan, cuti haid, penambahan masa cuti melahirkan, penyediaan ruang khusus bagi wanita yang menyusui, tidak membebani dengan jam kerja yang ketat dan lain-lain yang menjamin terbinanya rumah tangga dan tumbuhnya generasi yang sehat. Wallahu a’lam wa ahkam.[] Bang Henry

***
from: subchaoszine

Kumpulan kisah inspiratif andy kick:

Posted by bilal Kamis, 07 Februari 2013 0 komentar
Kumpulan kisah inspiratif andy kick:

buku ini telah lama di jual belikan, dan alhamdulillah berkat serfing di dunia maya akhirnya dapat juga buku satu ini.

nah supaya tidak berlama-lama silahkan mendownload buku Kumpulan kisah inspiratif andy kick, dengan mengklik link ini:

 [ Download  sekarang ]