Back to home

Posted by bilal Selasa, 14 Mei 2013 0 komentar
"Back to home" 

read: bilal revolusi

Ambon, 11 mei 2013. 

di depan saya sebuah white board tergantung, papan itu masih putih, tapi tak begitu bening saat pertama kakak saya membelinya. dan white board yang dihadapan saya itu sama halnya dengan sikap hidup kita. sewaktu kecil begitu polos, tak begitu mengerti batas-batas aurat. saat mandi bersama di kali, melompat dan tak takut mati, semua itu dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, sangat polos. namun, saat batas-batasan aurat telah dimengerti dikala dewasa, kita malah masih seperti anak-anak yang masih memamerkan aurat. suka mandi bertelanjang dada--layaknya cerita masa kecil dulu, masih kegenitan megang tangan orang--padahal sudah paham bahwa haram hukumnya pegang yang bukan muhrim. tapi itulah kita, manusia yang perlu untuk kembali belajar berkali-kali hingga kita mengerti. bukankah manusia itu tempatnya salah dan khilaf!!!.


back to home, apa yang akan saya ceritakan di catatan kali ini?...
oke, mari kita perhatikan kebiasaan kita selama di luar sana yang penuh dengan realita kehidupan yang sepotong ini, atau mengutip kata rasulullah bahwa hidup ini selayaknya tempat berteduhnya seorang pengembara di sebuh pohon dan akhirnya meninggalkan pohon yang meneduhkannya itu.
seringkali saat kita melakukan sesuatu aktifitas apapun, kita melupakan keberadaan Allah dalam kehidupan kita, dalam aktifitas kita. yang bekerja sebagai seorang dosen lupa Allah padahal Azan telah mengalun dengan indah dari masjid-masjid. seorang polisi melupakan Allah saat azan baru saja terdengar. seorang penjual koran dipinnggir jalan malah meninggalkan Allah--takut kalau-kalau ada yang akan membeli koran dan majalahnya saat dia sedang tutup lapaknya [baca: sholat]. seorang mahasiswa berkoar-koar melakukan aksi demo tentang penderitaan anu dan anu--tapi di satu sisi melupakan Allah, lebih mementingkan nasi bungkus yang dimakan nanti, ketimbang sholat. 

***
tadi siang, saat saya dan Firdaus menikamti internetan gratis, azan dzuhur berkumandang. saya asik bermain-main di dunia maya. Daus [pangilan akrab Firdaus] sudah mengingatkan bahwa sudah azan, malah saya dengan santai mengatakan, nanti. yah, itulah kita, itulah manusia yang sering berkata nanti saya sedang sibuk, nanti saya sedang mengetik, nanti saya sedang facebookan, nanti saya sedang jalan, nanti saya sedang susun laporan, nanti saya sedang bertugas, nanti saya sedang ngemil, nanti saya sedang nonton bola, nanti saya sedang ngojek, nanti saya sedang nyetir, nanti saya sedang baca novel,dan nanti-nanti lainnya. kata perintah yang tidak sadar kita ucapkan. dan kala itu pun sebenarnya kita mengalami kekalahan besar dalam iman.
Jerry D Gray dalam sebuah wawancara di Al kuliah yang saya copy dari Daus, saya menangkap sebuah sikap dari mualaf asal Amerika ini, yakni islam dalam pandangannya adalah agama yang sangat spektakuler. suatu hari Jerry datang ke arab saudi untuk bekerja sebagai teknisi di sana, dan saat dia sampai disana, dia berinteraksi dengan masyarakat, dia kaget, mobil-mabil yang lalu lalang saat suara azan terdengar tiba-tiba berhenti, mereka menghentikan mobilnya kesamping dan sholat dijalan-jalan. bukan itu saja, saat dia ingin membayar dikasir, dia kaget semua karyawan ditempat itu menghilang, mereka semua sedang sholat dibelakang. inilah yang membuatnya terheran-heran dengan islam. bagaimana dengan kita yang merupakan seorang islam keturunan? yang menemukan islam secara garis keturunan, yang bapak dan ibu kita islam--oleh kerenanya kita pun ikut islam? 

ah, apa yang diceritakan Jerry benar-benar menyadarkan saya bahwa islam yang di jadikan agama barunya itu, ternyata bermula dari hal dianggap oleh kita sebagai islam keturunan sebagai kejadian yang biasa melupakannya, padahal berbekas untuk seorang mualaf Amerika saat kaget degan mobil-mobil yang berhenti dan para draivernya turun dari mobil, menyempingkan mobilnya di pinggir jalan dan sholat dijalan-jalan. nampaknya saya masih banyak belajar dari kisah para mualaf untuk memotivasi diri saya ini lebih baik lagi dari sebelumnya, dari seorang mahasiswa yang sering mengabaikan sholat dengan menyepelakan waktu sholat menjadi manusia yang disiplin dengan sholat.[]

0 komentar:

Posting Komentar