bunga mawar yang berduri
Jumat, 11 Januari 2013
0
komentar
Wod: Muhammad ali
:Catatan seorang
blogger gila.
Sembari
menikmati secangkir teh pagi dan tulisan dari; Dan Brown: angels and demons.
Saya nggak lupa menyalakan VLC media player dan memutar lagu-lagu bergenre rege
semacam bang tony Q, ras Muhammad, imanez, ngupi bareng, steven jam dan monkey
boots. Asik di pagi-pagi yang tak berawan, saya memilih untuk santai di rumah,
nggak berangkat ke kampus, padahal ada ujuan semester hari ini [7 januari
2013].
Btw, kenapa judulnya bunga mawar
yang berduri?
Hehehe, itu
kerena saya teringat kebiasaan kita selaku anak muda, selaku manusia normal,
selaku cowok yang tertarik pada cewek. Pada dasarnya manusia memiliki hasrat
untuk mengagungkan sesuatu, mencintai sesuatu, menyepuhkan sesuatu, dan
menganggap agung manusia lain, mengangap manusia lain cerdas, cantik,
mempesona, dan lain-lain yang menggugah kita selayaknya kebo yang terheran-heran
melihat payung yang berwarna pelangi. Hal ini sama dengan konsisi saya yang
lagi melankolis, yang nggak tahu lagi “galau” tak tahu harus melangkah, ini
terjadi saat saya lagi berdzikir di sebuah masjid dan nggak tahunya, hati saya
bergetar, pikiran saya mengingat sebuah nama yang mengusik dzikir saya di kala
petang waktu itu. hingga sekarang pun, saya masih merasa getar-getar yang
sesekali membuat saya tertawa kecil sendiri. Mengingat ucapan saya yang nggak sengaja menyebut namanya di kelas
tempo hari, dan nggak di sangka ia meneteskan air mata mungkin kerena nggak
siap untuk maju kedepan dan mengerjakan soal matimatika, kala itu saya ingin
mengatakan arhy tapi tak tahunya, yang keluar dari mulut saya adalah nama
wanita itu. terjadilah sebuah drama. Dan hingga sekarang secarik memori yang
tersisa tentang sosoknya itulah yang membekas di hati saya, mungkin karena saya
yang nggak tegaan melihat cewek sampai meneteskan airmata? Atau sayanya yang
mudah terpincut dengan orang lian?... nggak tahu.
Sehabis pulang
hari itu, saya lantas menulis sebuah diary di sebuah buku cakaran seorang
teman, saya menyebut namanya dengan rasa, menyucapkan namanya dalam
goresan-goresan pena yang lembut. Aduh saya memang lagi melankolis, lagi sok
romantis pada bayangan, lagi sok mencintai orang yang sama sekali nggak tahu
kabarnya gimana sekarang? Di facebook saya tidak menemukannya. Pernah suatu
hari saya bertemu sosoknya yang pemurah senyum ini di angkutan kota, saya yang
kala itu sedang capek luar biasa, tiba-tiba tergugup saat bertemu pandang
denganya. Ia tersenyum melihat saya, lesung pipitnya yang indah masih seperti
duluh, jilbabnya yang putuh, atau wajahnya yang [ah saya malu mengatakannya]
masih seperti sediakala. Ia hanya menanyakan kabar saya, seadanya. Dan nggak
ada komunikasi lebih. Andai ia tahu sekarang apa yang terjadi di dalam rongga
dada saya hari ini dan hari-hari kemarin, mungkin ia akan melihat saya dengan kening yang
sinis, menganggap aneh dengan apa yang terjadi. Tapi itulah permainan hati, ia
nggak datang dangan mengetuk, ia nggak datang dengan permisi, atau ia nggak datang
dengan sekejap, tapi ia perlu proses, perlu waktu untuk mendaur [].

0 komentar:
Posting Komentar