Membuat Zine Itu Menyenangkan!!
Selasa, 17 Juli 2012
0
komentar
Membuat Zine Itu Menyenangkan!!
Iya, saya memang memulai membuat zine untuk komunitas/scene hardcore/punk. Topik-topik yang saya pilih juga banyak mengikuti referensi zine yang sebelumnya terbit mendahului Sub Chaos. Kami mulai menulis opini-opini tentang punk-hardcore, artikel-artikel singkat, menginterview band-band punk/hardcore lokal, dan meresensi rilisan-rilisan lokal. Dengan keterbatasan kami dalam menulis, kami ‘nekat’ saja mempublikasikannya. Tidak terlalu peduli respon yang kami dapat setelahnya, yang penting zine itu bisa menjadi ‘curahan hati’ kami sebagai editor.
Saat itu, Sub Chaos di edisi awal hanya di layout dengan Microsoft Word. Kami belum mengenal software desain perwajahan seperti Photoshop, Corel Draw, apalagi Indesign. Sehingga yang kami lakukan ketika itu adalah mengetik bahan/materi sebanyak-banyaknya lalu mencetaknya dengan printer ala kadarnya. Kami membuat master zine kami dengan cara menggunting satu persatu hasil print tersebut, lalu kami tempel-tempel ke kertas yang kami lipat seukuran format zine yang kami inginkan. Semisal ada foto-foto yang harus kami masukkan kedalamnya, kami pun menempelkan guntingan foto asli yang kami punya ke dalam zine tersebut. Cara ini, saat itu dikenal dengan istilah “CUT & PASTE”. Sangat primitif. Tapi terasa sekali nuansa “do it yourself” (singkat: DIY) yang waktu itu dikenal sebagai prinsip yang populer dikalangan punk.
Waktu itu membuat zine adalah sesuatu yang membuat kami sangat bersemangat. Padahal kami tahu hal ini sangat merepotkan. Kami juga tahu itu mengambil sebagian waktu, tenaga dan pikiran kami. Tapi entah apa yang bisa menggerakkan kami ketika itu untuk bersabar dengan keterbatasan hardware komputer, kemampuan yang minim, printer yang bergaris karena head mulai rusak, mengguntingi satu persatu, menempelkannya dengan lem kertas murahan yang sering belepotan, lalu memfotokopinya[3] dengan uang saku kami sendiri (yang saat itu kami masih di bangku SMA), dan menawarkannya satu-persatu ke teman-teman kami nongkrong.
Membuat zine memang menyenangkan. Meskipun saat ini saya sudah tidak memakai cara tradisional (cut & paste) lagi dalam produksi Sub Chaos zine dan Sa’i zine[4], tetap saja membuat zine adalah aktifitas yang menyenangkan. Tidak peduli bagaimana respon pembaca terhadap tulisan-tulisan kita. Yang positif maupun negatif, semuanya bisa membuat kami lebih dewasa lagi dalam memperbaiki kesalahan, atau menyikapi pujian yang kadang lebih ‘berbahaya’ dari cacian. Dengan zine, saya belajar banyak dalam kerja di dapur media. Meski dalam skup yang sangat kecil. Tapi sekali lagi, ini sangat menyenangkan! Karena menjalankan media sendiri, menjadi bos media kita sendiri, jadi editor dari media kita sendiri, menjadi wartawan sendiri, dan bahkan produser dan distributor sendiri!!
Menurut saya ini jauh lebih efektif ketimbang kita menulis di blog pribadi yang sama sekali tidak dikunjungi orang. Yang menjadi penghambat hanyalah kemauan untuk memulai. Kemalasan diri sendiri. Maka jika kalian merasa punya tulisan-tulisan yang menggugah dan memiliki nilai manfaat yang besar bagi umat, buatlah zine! Lalu rasakan sensasi DIY-nya! Coz create zine is very fun!!
[Curhat Mingguan Ke-39, Abu Hafizh, 21-06-2012, pukul 10:31]
[1] Jack adalah kakak kandung saya, yang ketika itu kami sama-sama bermain di band punk The Fourty’s Accident. Dia meninggal sesaat sebelum azan subuh, sekitar 5 tahun yang lalu. Kami baru tahu beliau meninggal ketika ayah kami membangunkannya untuk bersama-sama shalat subuh ke masjid, namun Jack sudah dipanggil oleh Allah Ta’ala. Semoga Allah Swt memberikan tempat yang indah di Surga, amin.
[2] Tiga Belas zine adalah zine buatan Arian 13, dulu adalah personel band hardcore dari Bandung, Puppen. Sekarang dia lebih dikenal sebagai vokalis Seringai.
[3] Umumnya zine ketika itu memang di produksi dengan cara fotokopi. Sedangkan ongkos fotokopi satu eksemplar zine ketika itu cukup mahal, yaitu sekitar 2000-3000 rupiah. Sehingga saat itu kami sering fotokopi sepuluh eksemplar lebih dulu, kalau sudah terjual, kami baru fotokopi lagi.
[4] Sa’i zine adalah zine buatan saya (penulis) yang dirilis pertama kali pada tahun 2008 yang fokus tujuannya adalah untuk dakwah Islam. Dicetak pertama kali dengan teknik offset di kertas cd, sedangkan dananya saat itu kami dapatkan dari sumbangan teman-teman disekitar yang sedang kelebihan rejeki. Sa’i zine bukanlah zine kedua yang pernah saya buat, karena sebelum itu, saya masih sempat membuat Roncet zine yang fokusnya membahas tentang desain dan seni visual. Tepatnya saat masih kuliah semester 3-4.
0 komentar:
Posting Komentar