Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Cinta Islami - Cermin Tak Terbalas

Posted by bilal Selasa, 05 Juni 2012 0 komentar
CERMIN TAK TERBALAS
Cerpen Tirta Putra Sutandi

Di sebuah desa terpencil hiduplah sebuah keluarga yang amat sederhana dalam kehidupannya. Keluarga tersebuat terdiri dari seorang ayah, ibu, dan tiga orang anak.Suatu hari ayahnya yang bernama Kartono sedang bekerja sebagai kuli bangunan, ia pun masih cukup muda yaitu berumur 30 tahun, sedangkan istrinya yang bernama Murti ini masih berumur 28 tahun. Mereka hidup berkeluarga karena di jodohkan oleh orangtua pada saat Murti berumur 18 tahun dan Kartono berumur 20 tahun. Selama sepuluh tahun mereka membina keluarga mereka dan mempunyai tiga orang anak. Anak mereka terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki, dua orang anaknya yang perempuan berumur 12 dan 13 tahun, sedangkan seorang anak laki-lakinya berumur 6 tahun.

Mereka hidup dalam kebahagiaan, hingga suatu ketika ada seorang tetangga yang baru pindah dari kota menuju ke desa tersebut. Ia adalah Marni seorang janda yang cantik bertubuh seksi dan tinggal di sebelah rumah Kartono. Saat Marni sedang melihat-lihat rumahnya banyak warga sekitar melihat janda itu, tak kecuali bapak-bapak yang melihatnya tanpa mengedipkan matanya. Hari sudah sore Kartono pun pulang dari pekerjaannya, karena mendengar ada seorang warga bary Kartono dan keluarganya ikut datang ke rumah Marni yang seorang janda tersebut. Tanpa di duga istrinya, Kartono pun ikut terperangkap dalam kecantikan dan keseksian seorang janda tersebut, Kartono langsung memainkan matanya untuk menarik perhatian seorang Marni. Setelah selesai mengunjungi warga baru tersebut, keesokan harinya teman Kartono yaitu Yanto datang menemui Kartono ke tempat kerja Kartono dan berkata “ wah Kartono, kamu pasti ingin cepat pulang nih?” “emang kenapa?” tanya Kartono, “ iya kan sebelah rumahmu kan ada janda seksi, cantik, bohai lagi, dan satu lagi dia sangat montok, hahaha.” saat mendengae hal itu teman-teman Kartono yang asik bekerja juga ikut tertawa. Saat itulah perasaan Kartono menjadi memihak kepada teman-temannya.

Keesokan harinya, saat itu Kartono yang tidak bekerja hanya duduk santai di depan rumahnya, sambil memainkan burung peliharaannya, dan saat Kartono memainkan burung peliharaannya, Marni datang untuk mengantar makanan ke rumah Kartono. Saat itulah badannya gemetar karena melihat tubuh seksi Marni yang hanya memakai baju yang mini, dan celana yang mini. Dalam hati Kartono berkata “waduh gila bener ni cewek cantik, seksi, andai saja dulu aku di jodohkan oleh orang tuaku seperti ini aku tidak bakalan hidup seperti ini.” Pada saat itu suasana di rumahnya sedang sepi istrinya bekerja di pasar dan anak-anaknya sedang sekolah, saat itu pula pikirannya menjadi tidak benar, hantu yang menghampiri Kartono membujuknya untuk membelai dan mengajaknya ke kamar. Kemudian Kartono yang tidak bisa menahan hawa nafsunya membawa Marni untuk masuk ke rumahnya dan berkata “ ayo masuk ke sini, runggu istri saya, soalnya kata istri saya apabila neng datang ke sini istri saya mau mengatakan sesuatu kaepada neng.” kemudian Marni pun menuruti perkataan Kartono. Selang waktu yang begitu lama Kartono semakin tidak tahan dengan nafsunya yang begitu besar, akhirnya kejadian itu terjadi Kartono mulai memperkosa Marni di rumahnya. Tidak lama itu istri Kartono datang, dan melihat aksi bejadnya seorang suaminya yang di belanya selama sepuluh tahun hilang dalam sekejap, karena nafsu birahinya yang begitu besar. Istri Kartono menangis dan lari ke tempat keluarganya, karena mendengar hal itu warga marah terhadap perilaku Kartono yang tidak senonong itu, dan akhirnya Kartono tewas karena di pukuli oleh para warga yang menghakimi sendiri. Kemudian mantan istri Kartono menikah lagi oleh seorang saudagar kaya yang tinggal di desa tersebut , dan Marni di usir dari desa tersebut.

***
http://www.lokerseni.web.id/2012/04/cerpen-cinta-islami-cermin-tak-terbalas.html

Syahid Sang Azazil

Posted by bilal 0 komentar
Cerpen Izzatul Jannah (Republika, 27 Mei 2012)

DEMIKIANLAH kisah akhir pada paragraf itu, Azazil meninggalkan langit sambil tertunduk. Ia telah ditolak untuk bertobat oleh seluruh agama[*]. Maka langit menghitam, saat ia meraung penuh penyesalan. Daun-daun di bumi sejenak kehilangan warna hijaunya ketika tubuhnya meluncur deras dari langit menerobos semesta, menukik menepiskan segala meteorit dan benda-benda langit, mengoyak udara lapis demi lapis. Sekala menjadi Niskala. Meninggalkan bara di sekujur tubuhnya yang berdebum disambut tanah bumi yang menganga.



“Aku ingin syahid… aku syahid!”

***

Perlahan sayap hitam dan kokoh di punggungnya menyusut untuk hilang dalam tubuhnya yang kekar. Tanduk di kepalanya perlahan menyatu dengan kulit di bawah rambutnya yang tumbuh ikal dengan segera, mata merahnya meredup dan muncul telaga di dalamnya. Ia tak lagi memerah, melainkan tampan dan berwibawa seperti para salafus shalih.

Ia mengibaskan pedang berukir dengan taburan permata bersarung merah, mirip pedang Yaman milik Khalid bin Walid, dari gerakan lengannya terdengar mengeluarkan bunyi gemeretak. Ia melangkah dengan gagah. Di hadapannya, 100 ribu bangsa romawi dan 100 ribu bangsa nasrani tumpah ruah di tanah Ma’an. Langit di atas tubuhnya masih memancarkan terik matahari, senja masih lama menjelang. Ia mendengus. Terdengar jelas di telinganya seruan Abdullah Ibn Rawahah yang membahana.

“Wallahi, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah. Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid di medan perang!”

“Aku menyukainya! Aku menginginkannya! Aku menghasratkannya! Seperti hasrat Zulaikha pada Yusuf!” Ia menggeram sambil menggeretakkan rahang di wajahnya.

“Shadaqta!! Ya Abdullah!” Orang-orang berteriak sambil mengacungkan pedang.
Ia dengan bekas tanduk di kepalanya itu menyeret ujung pedangnya, ujungnya melukai bumi. Melangkah dengan langkah yang meninggalkan bekas tapak kaki yang mengepul. Syahid… syahid, kata itu bergema di dalam kepalanya.

Ia melewati semak yang sedang tumbuh berbuah, ujung pedangnya yang berkilau itu diangkatnya sedikit, ada yang menggelegak di dalam tubuhnya yang tak mampu ditahannya, tiba-tiba ia mengangkat ujung pedangnya, menebas habis semaksemak yang dilewatinya, buahnya muncrat ke manamana, meleleh di ujung pedang, seperti darah. Sarang lebah di sekitarnya luluh lantak. Ribuan lebah menggeletak. Ia menggeram, penuh penyesalan, seperti namanya.

Pasukan Muslim hanya ada tiga ribu, menghadapi dua ratusan ribu musuh yang ingar-bingar. Apakah jumlah akan memenangkan? Apakah jumlah menentukan? Peperangan sama seperti kehidupan tak pernah sama dengan satu ditambah satu. Zaid bin Haritsah, panglima pertama yang membawa bendera, anak panah melesat, mendesing di sekitarnya, seperti hujan, dihadang dengan tebasan pedang. Ribuan anak panah menukik. Kaki-kaki kuda perang menjejak bumi mengepulkan debu. Pedang ibn Haritsah menebas, menghantam ratusan leher orang-orang Romawi, membuat musuh tersungkur dan darah tertumpah.
Tetapi, malaikat maut telah mengerti tugasnya, telah tertulis di lauh mahfudz, Zaid pun tumbang dalam keabadian. Laki-laki itu mendongak mendengar suara yang hanya bisa didengarnya sendiri, pintu surga dibuka. Ribuan bidadari menyanyi suka cita. Bau kasturi. Ia meraung. Syahid… syahid, kata itu bergema di dalam kepalanya.

Lalu, datang sang panglima pengganti, Ja’far bin Abi Thalib. Putra Abu Thalib itu menghela kudanya, menyambut bendera kaum Muslim yang nyaris rebah mengiringi tumbangnya Zaid, ia meraihnya, lalu menegakkannya tinggi-tinggi. Panji panji Rabbani.

“Aku rindu syahid!” suaranya lebih mirip keluh.

Lalu, telinganya menangkap udara menyesah, tebasan pedang kaum Romawi pada lengan kanan Ja’far, bumi menyesap darah. Pedang berpindah ke tangan kiri Ja’far bin Abi Thalib, dengan teriakan takbir. Ja’far terus mengibarkan bendera, sebelum menyongsong tebasan berikutnya pada lengan kirinya. Ia kini menjepit tiang panji-panji Muslim dengan sisa lengannya.

Ia tahu, langit telah dibuka sedikit demi sedikit untuk Ja’far. Untuk itu, ia menerjang ke dalam pertempuran, menebas segala yang mengadang. Ia seolah menjelma singa lapar yang merobohkan ratusan musuh! Ia begitu menginginkan lelangit terbuka untuknya, pendengarannya menghasratkan nyanyian para bidadari yang menyambutnya, penciumannya merindukan kasturi! Maka ia terus berkelebat, ujung pedangnya seperti mengiyakan hasratnya, mengaminkan harapannya. Lauh mahfudz telah menuliskan hanya akan ada 12 syahid dalam perang Mu’tah, ia sungguh ingin menjadi di antaranya.

Sebuah sekedup di atas unta jatuh, sesosok tubuh tergeletak. Udara mengepul sebab tanah padang pasir yang tertimpa beban berat, bukan hanya sesosok melainkan dua. Ia menggeram, ujung pedangnya sepertinya akan menambah kembali deretan musuh yang dikirimkannya ke alam akhirat. Pedangnya mengayun, tetapi sosok itu serentak membuka tabir di wajahnya.

“Perempuan!” jerit lelaki berpedang itu. Pedang yang telah terayun tertahan sejenak. Perempuan terlarang untuk dibunuh dalam peperangan. Ia sudah menebas semak berbuah, mengusik dan membunuh kawanan lebah, sesuatu yang terlarang dalam perang, sekarang wajah seorang perempuan mengadangnya.
Sesosok yang lain yang jatuh bersamaan dari sekedup itu, menampakkan wajahnya yang tanpa dosa, mendongak menantang, matanya tak berkedip, dalam ketakutan yang beku.

“Anak-anak!!” raung lelaki berpedang pendamba syahid itu. Pedangnya masih melayang di udara. Terngiang dalam ingatannya saat para pemuka agama menolak tobatnya. Apa yang akan terjadi jika engkau bertobat? Wahai Azazil? Apakah akan terus ada kebaikan jika tak ada lagi keburukan? Akankah ada pahala jika sang pendosa tak lagi berbuat dosa? Akankah ada surga jika neraka tak lagi disiapkan baginya?
Lelaki itu meraung. Sementara telah tumbang syahid ke-12. Maka pedang itu menderas, hampir menyentuh kulit leher sang perempuan.

Setitik air mata melayang.

Waktu terhenti. (*)
.
.
Catatan:
[*] Dari cerpen “Ketika Syaitan Bertobat” karya Taufik Al Hakim.
 .
Penulis adalah pengarang cerita-cerita epik, Ketua Umum FLP 2009-2013, pegiat literasi sejak tahun 2002.

***
http://lakonhidup.wordpress.com/2012/06/03/syahid-sang-azazil/

Cinta di Ujung Senja

Posted by bilal Selasa, 29 Mei 2012 0 komentar

 Cerpen Irwan Kelana (Republika, 1 April 2012)


SEJAK awal aku sebetulnya tidak mau datang ke acara reuni ini. Apalagi ketika Muhsin, kawan karibku sewaktu di aliyah dulu, mengatakan bahwa Dini akan datang.


Tapi, Bu Yetty, guru yang paling mengerti tentang diriku, dan kepadanya aku dan Dini sering curhat, memaksaku. “Ilham, datang ya. Ibu kangen sama kamu. Sudah lima belas tahun nggak ketemu,” ucapnya di telepon minggu lalu.

“Datang ya, Il, ada kejutan buat kamu, lho,” Inu sang ketua panitia reuni membujukku lewat SMS.
Sejujurnya, aku juga kangen bertemu teman-teman dan guru-guru. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Mungkin mereka semua sudah menikah dan punya anak. Boleh jadi juga sudah banyak yang perutnya gendut.

Namun, aku merasa tidak siap untuk bertemu Dini. Aku tak mau hatiku terluka kembali mana kala melihat sosoknya. Ya, Dini adalah gadis pujaanku saat di aliyah dulu. Gadis Jawa itu begitu lembut dan anggun dengan bulu mata lentik dan sorot mata teduh yang selalu mampu menenangkan hatiku. Kerudung putih membuat wajahnya bertambah cantik. Posturnya semampai dalam balutan baju panjang dan rok panjang abu-abu.

Kami sering shalat dhuha dan membaca Alquran bersama di mushala sekolah. Tiap ada acara pengajian, aku dan dia selalu duduk di baris paling depan. Kami pernah merajut cita-cita untuk membina keluarga yang saleh. Aku akan memanggilnya “Ummi” dan ia memanggilku “Abi”. Dan, rumah kami setiap hari akan diramaikan oleh tingkah polah anak-anak yang ceria.

Lulus aliyah, aku berhasil mendapatkan beasiswa ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, sedangkan Dini melanjutkan kuliah ke UIN Jakarta. Kami berjanji akan tetap menjaga cita-cita tersebut dan akan mewujudkannya sepulangnya aku dari Mesir.

Namun, baru dua tahun aku menuntut ilmu di Negeri Seribu Menara itu, cita-cita tersebut kandas. Ayah Dini sakit keras, dan permintaannya sebelum dia meninggal adalah dia ingin agar Dini menikah. Mereka menelepon aku. Tapi, tak mungkin aku pulang mendadak dan menikah dengannya. Akhirnya, Dini dinikahkan dengan seorang laki-laki yang katanya masih ada hubungan kerabat jauh.

Luka hatiku sangat perih. Rasanya tak percaya bahwa cinta bisa semudah itu diretas. Untuk melupakan Dini, aku memfokuskan perhatian hanya pada pelajaran. Aku berhasil lulus S-1 dengan predikat mumtaz (cum laude). Ketika ditawari beasiswa S-2, langsung saja aku ambil.

Hampir lima tahun, aku berhasil menggondol gelar MA, juga dengan yudisium mumtaz.
Aku belum berniat pulang meskipun orang tuaku berkali-kali mengirim surat minta agar aku kembali ke Tanah Air dulu, setelah itu boleh balik lagi ke Mesir. Aku mengambil beasiswa program S-3 dan menyelesaikan kuliah doktoral selama empat tahun.

Mungkin bisa dibilang patah arang, aku sudah membulatkan tekad tidak akan kembali ke Tanah Air. Namun, suatu hari, tepatnya dua tahun silam aku bertemu menteri agama dalam sebuah seminar keislaman internasional di Kairo, di mana aku turut menjadi panitia. Menteri mengajak aku kembali ke Tanah Air karena katanya keahlianku di bidang tafsir sangat diperlukan.

***
“Ilham, thanks lho udah mau datang,” sapaan Inu mengagetkanku.
“Hei, Ilham. Mana nyonya?” tanya Edy, kawan kami yang paling bandel. Aku menggeleng.
“Sekian tahun kau di Mesir. Masa sih gak ada satu pun cewek yang bisa kau gaet? Kalau tidak dapat gadis Mesir, gadis Indonesia pun tak apalah,” Pandu si playboy menimpali.
“Begitulah kenyataannya.”
“Ssst! Nyonyanya sebentar lagi datang lho,” kata Inu.
“Maksudmu?” tanya Edy dan Pandu bersamaan.
“Ada deh. Tunggu aja,” sahut Inu sambil tersenyum.
Satu per satu rekan-rekan seangkatanku tiba di tempat acara, sebuah restoran kebun yang terletak di Jalan Margonda Raya, Depok. Beberapa orang guru juga datang, termasuk Bu Yetty.
“Eh, Ilham, ibu kangen banget sama kamu.”
“Saya juga kangen sama Ibu,” aku mencium tangannya.
“Ada seseorang yang sangat merindukanmu. Sebentar lagi juga dia sampai di sini.”
“Siapa, Bu?” tanyaku walaupun aku sudah bisa meraba ke mana arah pembicaraan Bu Yetty.
“Dini.”
“Dini?” Masih juga aku terkejut, meski aku menebak nama itulah yang akan diucapkan oleh Bu Yetty.
“Iya, Dini. Dia sudah menjanda, lho. Lima tahun lalu. Suaminya meninggal karena kecelakaan pesawat. Mereka tak punya anak. Dini janji sama Ibu, dia akan datang ke acara reuni ini.”

Hatiku tiba-tiba seperti bunga mati yang mekar kembali. Dini! Ah, calon ibu anakanakku itu, masihkah dia seperti dulu: selalu senyum dikulum dan suaranya selalu mampu menenangkan kegundahan hatiku.
Sudah hampir pukul 12.00 siang, namun Dini belum juga tiba.

“Tenang, Il, sebentar lagi juga dia datang. Dia langsung dari bandara. Ada acara di Bali,” Inu seperti mengerti kegalauan hatiku.

Ketika sebuah SMS masuk ke HP-nya, Inu segera menyodorkannya kepadaku, “In, aku udah di taksi. Kira-kira satu jam lagi nyampe di tempat acara. Dini.”

Namun, hingga pukul satu, Dini belum juga sampai. Ditunggu hingga pukul dua siang, juga tidak ada kabar berita.

Pukul tiga sore HP Inu berbunyi. Setelah berbicara sejenak, wajahnya langsung pucat pasi.
“Ada apa, Inu?” tanyaku dan beberapa kawan serempak.

“Dini tabrakan… sekarang di UGD… tadi petugas mendapatkan nomorku dari HP-nya Dini,” suara Inu terbata-bata.
***
Sepanjang malam aku menunggui Dini. Berharap ada keajaiban. Kepala Dini diperban dan di tangannya terselip selang infus. Ia mengalami pendarahan yang sangat parah. “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku kehilangan Dini untuk kedua kali,” bisikku dalam hati.

Pukul dua dini hari, ibu dan adik Dini, Dinda, tertidur sambil duduk di bangku. Aku berwudhu, lalu shalat hajat dan tahajud.

Aku teringat kisah tiga pemuda Kahfi saat mereka terkurung dalam gua. Masing-masing berdoa menyebut kebaikan mereka. Dan, tiap kali satu orang menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukannya, batu penutup gua bergeser sedikit. Sampai akhirnya, pintu gua itu terbuka dan mereka dapat keluar dari dalam gua.
“Ya Allah, aku pernah memberikan seluruh tabunganku kepada seorang sahabatku yang akan menikah di Mesir dulu. Jika hal tersebut merupakan amal saleh yang Engkau terima, tolong selamatkan dan sembuhkan Dini,” ucapku perlahan.
Azan Subuh terdengar dari masjid di luar sana. Tiba-tiba aku mendengar suara rintihan Dini. Lalu perlahan matanya sedikit terbuka. Ah, mata sendu itu! Mata yang selalu membuatku rindu menatapnya.
“Din,” aku berbisik di telinganya. Tanganku menggengam jemari tangan kirinya.
“Ilham,” suaranya terdengar parau.
“Ya, Din. Ini aku. Kamu akan sembuh dan kita akan mewujudkan mimpi kita. Membina keluarga bahagia, dengan 10 anak yang semuanya jadi penghafal Alquran.”
Bibirnya berusaha mengukir senyum, namun ia menggeleng lemah.
“Aku ingin shalat,” tuturnya lirih.
Aku segera membangunkan ibunya. Ia membantu Dini tayamum.
Matanya menatapku lembut seperti memberi isyarat. “Kamu mau shalat berjamaah, Din?” bisikku di telinganya.
Ia mengangguk dengan ekor matanya.
Aku segera berwudhu kembali, kemudian menjadi imam shalat. “Ya Tuhan, betapa lama aku merindukan hal ini: menjadi imam shalat bagi Dini dan kelak juga anak-anak kami.”
Selesai shalat, aku segera berdiri. Saat kupandang wajah Dini, matanya terpejam. Ia pingsan kembali.
Aku segera memanggil suster. Ia datang tergopoh-gopoh, lalu memeriksa keadaan Dini. Tiba-tiba, ia tampak tegang dan segera menelepon dokter. Dokter segera datang dan memeriksa detak jantung Dini.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanyaku tak sabar.
“Mari sama-sama kita berdoa, semoga Tuhan memberikan pertolongan kepadanya.”
“Maksud Dokter?”
“Terus terang, kondisinya memburuk, tapi kami akan berusaha semampu kami. Yang penting, teruslah berdoa mohon yang terbaik untuknya.”
Hatiku tercekat. Seperti ada feeling bahwa Dini akan pergi untuk selamanya.
Ternyata benar. Dini tak pernah sadarkan diri lagi. Kira-kira pukul delapan pagi ia mengembuskan napasnya yang terakhir.
Ia pergi tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Kubelai rambut hitamnya dan kukecup keningnya. Wanita yang tak pernah kusentuh selama hidupnya.
***
Upacara pemakaman Dini dihadiri oleh para guru dan teman yang kemarin datang di acara reuni. Sebelumnya, aku diminta oleh pihak keluarga untuk menjadi imam shalat jenazah.
“Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihaa wa’fu anha…,” doaku begitu khusyuk.
Aku turun ke liang lahat dan mendekap jenazah Dini saat dimasukkan ke dalam kubur. Seusai penguburan, aku menanam dua batang kemboja di dua ujung makam itu.
“Il, kemarin waktu di taksi, Dini sempat telepon aku. Katanya, dia cinta Ilham dan mau datang ke acara reuni karena berharap dapat mengobati luka hati Ilham,” bisik Inu lirih.
Aku menggigit bibir, menahan agar tak ada air mata yang jatuh.
Menjelang pukul lima, acara pemakaman usai. Satu per satu pengantar jenazah meninggalkan pemakaman umum itu. Namun, aku masih duduk termangu di depan makam yang masih merah itu.
“Il, aku duluan ya,” kata Muhsin.
“Saya juga duluan ya, Il,” kata Inu.
Aku cuma mengangguk.
Tinggal aku berdua dengan ibu Dini.
“Maafkan ibu dan almarhum Bapak ya, Nak Ilham,” kata ibu Dini perlahan.
Aku meraih tangannya. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Jodoh, rezeki, maut, semua Allah yang punya. Kita hanya menjalani takdir yang telah Allah gariskan buat kita masing-masing ketika kita masih di dalam kandungan ibu kita, bahkan semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz.”
Air matanya tiba-tiba kembali menderas. Ia memelukku.
“Ikhlaskan Dini, Nak Ilham…,” bisiknya parau.
“Ya, Bu,” sahutku dengan suara bergetar.
Aku memegang bahunya. “Sebaiknya Ibu pulang duluan. Nanti saya menyusul.”
Ia mengangguk, lalu berlalu menghampiri Dinda, yang telah menunggu di gerbang makam.
Aku kembali bersimpuh di depan makam Dini. Aku membacakan surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, ayat kursi, dan zikir serta doa untuk Dini. Seakan-akan ia mengaminkan doaku.
Aku terus berdoa dan berzikir sampai senja datang dan azan Maghrib terdengar. Kupandang makam itu seraya berbisik, “Din, aku shalat Maghrib dulu, ya.”
Seusai shalat di mushala terdekat, aku kembali menyambangi makam Dini. Kembali kukirimkan doa-doa terbaik untuknya.
Senja sudah sampai di ujungnya. Sekali lagi kutatap makam yang masih segar itu, di antara temaram bayang-bayang malam yang kian muram. Di dalamnya terbaring wanita yang kucintai, namun tak pernah bisa kumiliki.
“Din, beristrahatlah dengan damai, semoga Allah selalu menyayangimu di alam sana,” bisikku dengan suara tercekat.
Berat kakiku melangkah. Aku merasa separuh jiwaku ikut terkubur bersama jasad Dini. Sunyi membalut hatiku dan dukaku kian membatu. (*)
 .
.
Depok, 2012
Irwan Kelana, cerpenis, novelis, dan wartawan Republika, kelahiran Depok, Jawa Barat, 1 September 1965. Menggemari kegiatan tulis-menulis sejak SMA. Bukunya yang sudah terbit antara lain Kelopak Mawar Terakhir, Kemboja Terkulai di Pangkuan, Menata Jarak Hati, dan Masa Depan. Sejumlah cerpennya juga dimuat dalam antologi bersama.

***
from: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/04/13/cinta-di-ujung-senja/